A. Konsep
Dasar Sistem Pembelajaran
1. Pengertian
Sistem
Pada akhir tahun 1950 dan awal 1960-an pendekatan
sistem mulai diterapkan dalam bidang pendidikan dan pelatihan. Pendekatan
sistem yang diterapkan dalam pembelajaran bukan saja sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuaan dan teknologi, tetapi juga sesuai dengan perkembangan dalam
psikologi belajar sistematik yang dilandasi oleh prinsip-prinsip psikologi
behaavioristik dan humanistik serta kenyataan dalam masyarakat sendiri. Menurut
Sanjaya (2013) menyatakan bahwa sistem bukanlah “cara” atau “metode” seperti
yang banyak dikatakan orang. Cara hanyalah bagian kecil dari suatu sistem. Istilah
sistem meliputi spektrum yang sangat luas. Misalnya manusia, binatang, alam
semesta, mobil, motor, lembaga tertentu adalah sebagai suatu sistem. Mengapa semuanya
itu dikatakan sebagai suatu sistem? Karena contoh-contoh diatas memiliki
komponen tertentu yang berfungsi untuk mencapai tujuan tertentu pula. Misalnya manusia
sebagai suatu sistem karena manusia memiliki komponen tertentu yang memiliki
keterkaitan satu sama lain. Dalam tubuh manusia terdapat organ tubuh seperti
mata, hidung, mulut, jantung, hati, paru-paru, otak, tangan, kaki dan lainnya. Setiap
komponen memiliki fungsi tertentu. Seperti mata berfungsi untuk melihat, hidung
berfungsi untuk mencium bau, jantung memompa darah dan lain sebagainya. Setiap komponen
dalam tubuh manusia berkaitan satu sama lain. Ketika satu bagian tubuh merasa
sakit maka bukan hanya bagian itu saja yang merasakannya tetapi semua tubuh pun
ikut merasakan sakit yang sama.
Jadi sistem merupakan suatu komponen yang memiliki
keterkaitan antara satu dengan yang lain untuk mencapai suatu tujuan.
Dari konsep tersebut sanjaya (2013)menyatakan bahwa
ada 3 ciri utama yakni
1) Setiap
sistem memiliki tujuan tertentu
Setiap sistem pasti memiliki tujuan. Sebagai contoh manusia
sebagai sistem yakni agar dapat melaksanakan tugas kehidupannya. Tujuan kendaraan
sebagai sistem yakni mengantarkan penumpangnya dengan lebih cepat, aman dan
nyaman. Tujuan lembaga pendidikan sebagai sistem yakni agar dapat melayani
setiap peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikannya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa sistem pasti memiliki tujuan. Tujuan itulah yang menjadi
penggerak sistem.
2) Setiap
sistem memiliki fungsi tertentu
Untuk mencapai suatu tujuan, setiap sistem harus
memiliki fungsi tertentu. Misalnya, agar manusia dapat melaksanakan tugas
kehidupannya, manusia memerlukan fungsi pernafasan, pencernaan, peredaran darah
dan lain sebagainya. Agar suatu
kendaraan dapat mengantarkan penumpangnya dengan lebih cepat, aman, dan nyaman
mesti memiliki fungsi pengaturan penggerak, fungsi pengaturan arah, fungsi
kenyamanan dan fungsi pengamanan dan lain sebagainya. Agar proses pendidikan
berjalan dan dapat mencapai tujuan secara optimal maka diperluka fungsi
perencanaan, fungsi administrasi, fungsi kurikulum, fungsi bimbingan, dan lain
sebgainya. Jadi dapat disimpulkan bahwa setiap fungsi inilah yang akan terus
berproses hingga tercapainya suatu tujuan.
3) Setiap
sistem memiliki komponen
Untuk dapat melaksanakan fungsi-fungsinya, setiap
sistem harus memiliki komponen yang saling terkait antara satu sama lain. Komponen-komponen
inilah yang menentukan kelancaran proses suatu sistem. Misalnya agar fungsi
pencernaan berjalan dengan sistem tubuh manusia maka diperlukan komponen mulut,
gigi, lidah, kerongkongan, lambung, usus dan lain sebaginya. Agar fungsi
pengaturan arah berjalan dalam sistem kendaraan maka diperlukan komponen stir,
dan lain sebagainya. Begitu juga agar fungsi perencanaan pembelajaran dapat
berjalan dengan baik maka diperlukan komponen silabus, rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP). Agar fungsi adminstrasi pembelajaran dapat menunjang
keberhasilan sistem pendidikan maka diperlukan komponen administrasi kelas,
administrasi peserta didik, administrasi pendidik dan lain sebagainya. Agar kurikulum
berfungsi sebagai alat pendidikan diperlukan komponen tujuan, isi/materi
pelajaran, strategi pembelajaran serta komponen eveluasi pembelajaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagai suatu sistem
komponen harus dapat melaksanakan fungsinya dengan tepat dan apabila terdapat 1
komponen tidak berfungsi maka akan mempengaruhi sistem tersebut. Keberadaan
komponen beserta fungsinya memiliki kedudukan yang sangat penting sehingga
tidak mungkin ada sistem tanpa adanya komponen. Selain itu, Sanjaya (2013)
menjelaskan bahwa terdapat pula sifat-sifat komponen dalam suatu sistem yakni
1) Dilihat
dari fungsinya terdiri dari komponen yang bersifat integral dan tidak integral.
Komponen integral merupakan koponen yang tidak dapat
dipisahkan atara 1 dengan yang lain sebgai contoh pendidik dan peserta didik
dalam lembaga pendidikan. komponen tidak integral merupakan komponen pelengkap
artinya walaupun komponen itu tidak ada maka tidaka akan memiliki pengaruh yang
signifikan dalam sistem itu. Misalnya walaupun sekolah itu tidak mimiliki
perpustakaan dalam suatu lembaga pendidikan maka sekolah tersebut tetap
melakukan proses belajar mengajar.
2) Setiap
komponen dalam suatu sistem saling berhubungan dan saling berkaitan.
Semua komponen yang membentuk sistem harus berfungsi
dengan baik sebab manakala salah satu komponen terlepas maka sistem tidak akan
menjalankan fungsinya dengan baik dan memungkin akan merusak sistem secara
keseluruhan. Misalnya komponen pendidik tidak dapat menjalakan fungsinya dengan
baik dalam lembaga pendidikan maka akan merusak sistem lembaga pendidikan yang
bersangkutan
3) Setiap
komponen dalam suatu sistem merupakan keseluruhan yang bermakna.
Dalam suatu sistem, komponen, komponen itu bukan
hanya bagian-bagian yang terpisah akan tetapi satu kesatuan yang bermakna. Misalnya
dalam pelaksanaan pembelajaran komponen yang diperlukan seorang pendidik yakni
materi pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), pemilihan model, metode,
strategi, pendekatan dan media pembelajaran yang tepat. Jika pendidik tidak
menggunakan media yang tepat dalam penyampaian materi maka komponen dari sistem pengajaran akan rusak sehingga
pembelajaran yang didapatkan oleh peserta
didik menjadi tidak bermakna karena kesalahan pemilihan media. Hal ini
akan lebih parah ketika pendidik salah konsep dalam menyampaikan materi sehingga
peserta didik akan memperoleh miskonsepsi atau kesalahan dalam konsep. Untuk itu
komponen dalam suatu sistem sangat penting dan saling berkaitan apabila terjadi
satu kesalahan pada komponen, tidak menutup kemungkinan akan terjadi kerusakan
secara keseluruhan terhadap sistem tersebut.
4) Setiap
komponen dalam suatu sistem adalah bagian dari sistem yang lebih besar.
Komponen-komponen dalam suatu sistem pada dasarnya
adalah subsistem dari suatu sistem. Ini berarti komponen-komponen itu pada
dasarnya membentuk sistem tersendiri yang lebih kecil. Misalnya sekolah adalah
sebagai suatu sistem yang merupakan subsistem dari sistem pendidikan.
2. Sistem
Pembelajaran
Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi
yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan
prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan berdasarkan pendapat Hamalik
(2012). Unsur manusiawi dalam sistem pembelajaran terdiri atas siswa,
guru/pengajar, serta orang orang yang mendukung terhadap keberhasilan proses
pembelajaran termasuk pustakawan. Laboran, tenaga administrasi bahkan mungkin
penjaga kantin sekolah. Material adalah berbagai bahan pembelajaran yang dapat
disajikan sebagai sumber belajar, misalnya buku buku, film, slide suara, foto,
CD, dan sebagainya. Fasilitas dan perlengkapan adalah segala sesuatu yang dapat
mendukung terhadap jalannya proses pembelajaran, misalnya ruang kelas,
penerangan, perlengkapan komputer, audio visual, dan lain sebagainya. Prosedur
adalah kegiatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran misalnya, strategi dan
metode pembelajaran, jadwal pembelajaran, pelaksanaan evaluasi, dan lain
sebagainya.
Sebagai suatu sistem seluruh unsur yang membentuk
sistem itu memiliki ciri saling ketergantungan yang diarahkan untuk mencapai
suatu tujuan. Keberhasilan sistem pembelajaran adalah keberhasilan pencapaian
tujuan pembelajaran. Selanjutnya, siapa yang diharapkan dapat mencapai tujuan
tersebut ? yang harus mencapai tujuan adalah siswa sebagai subjek belajar. Maka
dengan demikian, tujuan utama sistem pembelajaran adalah keberhasilan siswa mencapai
tujuan. Dari uraian tersebut, Sanjaya (2013) menjelaskan bahwa tugas seorang
perancang pembelajaran meliputi 3 hal pokok yaitu ;
1)
Sebagai perencana, yakni
mengorganisasikan semua unsur yang ada agar berfungsi denga baik, sebab
manakala salah satu unsur tidak bekerja dengan baik maka akan merusak sistem
itu sendiri.
2)
Sebagai pengelola implementasi sesuai
dengan prosedur dan jadwal yang direncanakan
3)
Mengevaluasi keberhasilan siswa dalam
mencapai tujuan untuk menentukan efektivitas dan efesiensi sistem pembelajaran.
Hamalik
(2003) berpendapat bahwa terdapat pola pendekatan sistem pembelajaran yang
harus ditempuh yakni :
1)
Identifikasi kebutuhan pendidikan dan
pelatihan (merumuskan masalah)
2)
Analisis kebutuhan untuk
menstranformasikannya menjadi tujuan-tujuan pembelajaran (analisis masalah)
3)
Merancang metode dan materi pembelajaran
(analisis masalah)
4)
Pelaksananaan pembelajaran
(ekspresimental)
5)
Menilai dan merevisi.
B. Manfaat
Pendekatan sistem dalam pembelajaran
Sanjaya (2013) menjelaskan bahwa dalam
merencanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem memiliki beberapa
manfaat diantaranya :
1)
Melalui pendekatan sistem, arah dan
tujuan pembelajaran dapat dirancanakan dengan jelas. Mengajar adalah proses
yang bertujuan. Mau dibawa kemana siswa ? apa yang harus mereka lakukan dalam
proses pembelajaran ? semuanya tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Melalui
tujuan itulah kita dapat menetapkan arah dan sasaran dengan pasti. Perumusan
tujuan merupakan salah satu karakteristik pendekatan sistem. Penentuan komponen-komponen
pembelajaran pada dasarnya diarahkan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian,
segala usaha baik pendidik maupun peserta didik diarahkan untuk mencapai tujuan
dan arah pembelajaran, sehingga melalui tujuan yang jelas, bukan saja dapat menentukan
langkah-langkah pembelajaran dan pengembangan komponen yang lainnya, akan
tetapi juga dapat dijadikan kriteria efektivitas proses pembelajaran. Dapat kita
bayangkan apa yang akan terjadi, manakala dalam suatu proses pembelajaran tanpa
adanya tujuan yang jelas. Tentu, proses pembelajaran tidak akan menjadi fokus,
dalam arti pembelajaran akan menjadi tidak bermakna serta sulit menentukan
efektivitas proses pembelajaran.
2)
Pendekatan
sistem menuntun pendidik pada kegiatan yang sistematis. Berpikir secara sistem
adalah berpikir runtut, sehingga melalui langkah-langkah yang jelas dan pasti
memungkinkan hasil yang diperoleh akan maksimal. Sebab melalui langkah yang
sistematis kita dituntun untuk melakukan proses pembelajaran setahap demi
setahap dari seluruh rangkaian kegiatan, sehingga kemungkinan kegagalan dapat
dihindari. Dengan demikian, pendekatan sistem juga dapat menghindari
kegiatan-kegiatan yang tidak perlu dilakukan.
3)
Pendekatan sistem dapat merancang
pembelajaran dengan mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang
tersedia. Sistem dirancang agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara
optimal. Dengan demikian, berpikir sistemis adalah berpikir bagaimana agar
tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik. Dengan ketercapaian
tujuan pembelajaran dalam kerangka sistem itulah setiap pendidik berusaha
memanfaatkan seluruh potensi yang relevan dan tersedia.
4)
Pendekatan sistem dapat memberikan umpan
balik. Melalui proses umpan balik dalam pendekatan sistem, dapat diketahui
apakah tujuan itu telah berhasil dicapai atau belum. Hal ini sangat penting
sebab mencapai tujuan merupakan hal yang utama dalam berpikir sistemik. Misalnya
manakala berdasarkan umpan balik diketahui tujuan tidak berhasil dicapai,
komponen mana yang perlu diperbaiki, dan komponen mana yang perlu
dipertahankan? Apakah setiap komponen harus dilakukan penyesuaian atau hanya
komponen tertentu saja ? bagaimana kadar perbaikan setiap komponen tersebut ?
semua itu dapat diperoleh dari kajian umpan balik.
C. Komponen
sistem pembelajaran
Perencanaan pembelajaran adalah
proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan
tujuan pembelajaran tertentu, serta suatu rangkaian kegiatan yang perlu
dilakukan sebagai upaya pencapaian tujuan dengan memanfaatkan segala potensi
dan sumber belajar yang ada. Perencanaan pembelajaran mengarah pada proses
penerjemahan kurikulum yang berlaku. Sedangkan, desain pembelajaran menekankan
pada merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar peserta
didik. Hal inilah yang membedakan keduanya. Perencanaan berorientasi pada kurikulum
sedangkan desain berorientasi pada proses pembelajaran. Namun demikian, baik
pengembangan perencanaan maupun pengembangan desain pembelajaran keduanya
disusun berdasarkan pendekatan sistem. Kalau kita anggap perencanaan
pembelajaran sebagai suatu sistem, maka di dalamnya harus memiliki komponen
komponen yang berproses sesuai dengan fungsinya hingga tujuan pembelajaran
tercapai secara optimal. Komponen sistem pembelajaran yang digambarkan oleh
Brown (1983) terdapat beberapa komponen sistem pembelajaran yakni
1) Peserta
didik
Proses pembelajaran pada hakikatnya
diarahkan untuk membelajarkan peserta didik agar dapat mencapai tujuan yang
telah ditentukan. Dengan demikian, maka proses pengembangan perencanaan dan
desain pembelajaran, peserta didik harus dijadikan pusat dari segala kegiatan. Artinya,
keputusan-keputusan yang diambil dalam perencanaan dan desain pembelajaran
disesuaikan dengan kondisi peserta didik yang bersangkutan, baik sesuai dengan
kemampuan dasar, minat dan bakat, motivasi, belajar, dan gaya belajar peserta
didik itu sendiri.
Anlisis peserta didik merupakan
suatu hal yang penting sebelum merencanakan suatu proses perencanaan
pembelajaran. Misalnya, kita membutuhkan informasi tentang apa saja yang harus
diketahui oleh mereka sesuai dengan tuntunan kurikulum ? apa saja yang sudah
mereka ketahui dan mana saja yang belum dipahami ? masalah apa saja yang mereka
hadapi dalam proses belajar ? adakah sesuatu yang mereka harapkan dalam proses
pembelajaran dan lain sebagainya. Apabila kita telah memahami
persoalan-persoalan yang berhubungan dengan peserta didik, maka selanjutnya
kita dapat mulai melakukan proses perencanaan dan menyusun desain. Jadi dengan demikian,
keputusan apapun yang harus kita ambil sebaiknya berasal dari kondisi peserta
didik yang akan kita belajarkan.
2) Tujuan
Tujuan adalah komponen terpenting
dalam pembelajaran setelah komponen peserta didik sebagai subjek belajar. Dalam
konteks pendidikan, persoalan tujuan merupakan persoalan tentang misi dan visi
suatu lembaga pendidikan itu sediri. Artinya tujuan penyelenggaraan pendidikan
diturunkan dari visi dan misi lembaga pendidikan itu sendiri, misalnya :
a. Melatih
peserta didik agar memiliki kemapuan tinggi dalam bidang permesinan
b. Mengajarkan
keterampilan dasar bagi peserta didik
c. Memberikan
jaminan agar lulusan menjadi tenaga kerja yang efektif dalam bidang tertentu,
memiliki kreatifitas yang tinggi dan lain sebagainya.
Tujuan-tujuan
tersebut sebenarnya merupakan arah yang harus dijadikan rujuakan dalam proses
pembelajaran. Artinya tujuan-tujuan khusus, yang dirumuskan harus berorientasi
pada pencapaian tujuan umum tersebut. Tujuan-tujuan khusus yang direncanakan
oleh pendidik meliputi
a. Pengetahuan,
informasi, serta pemahaman sebagai bidang kognitif
b. Sikap
dan apresiasi sebagai tujuan bidang afektif
c. Berbagai
kemampuan sebagai bidang psikomorik
Dalam
konteks pembelajaran, tujuan khusus dirumuskan sebagai teknik untuk mencapai
tujuan pendidikan.
3) Kondisi
Kondisi adalah berbagai pengalaman
belajar yang dirancang agar peserta didik dapat mencapai tujuan khusus seperti
yang telah dirumuskan. Pengalaman belajar harus mendorong agar peserta didik
aktif belajar baik secara fisik maupun nonfisik. Merencanakan pembelajaran
salah satunya adalah menyediakan kesempatan pada peserta didik untuk belajar
sesuai dengan gaya belajarnya sendiri. Demikian juga dalam merancang
pembelajaran perancang perlu menciptakan kondisi agar peserta didik dapat
belajar dengan penuh motivasi dan penuh gairah, oleh sebab itu, tugas pendidik
adalah memfasilitasi pada peserta didik agar mereka belajar sesuai dengan minat,
motivasi, dan gayanya sendiri. Semua itu bisa dirancang melalui pendekatan
belajar secara klasikal dalam kelompok kelas besar, kelompok kelas kecil dan
bahkan belajar secara mandiri. Namun demikian, walaupun para perancang
menggunakan berbagai pendekatan pada akhirnya sasaran akhir adalah bagaimana
agar setiap individu dapat belajar. Oleh karewna itu tekanan dalam menentukan
kondisi belajar adalah siswa secara individual.
4) Sumber-sumner
belajar
Sumber belajar berkaitan dengan
segala sesuatu yang memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengalam
belajar. Didalamya meliputi lingkunagn fisik seperti tempet belajar, bahan dan
alat yang dapat digunakan, personal seperti pendidik, petugas perpustakaan,
ahli media, dan orang yang memiliki pengaruh baik langsung maupun tidak
langsung untuk keberhasilan dalam pengalaman belajar. Dalam proses merencanakan
pembelajaran, perencanaan harus dapat menggambarkan apa yang harus dilakukan
pendidik dan peserta didik dalam memanfaatkan sumber belajar secara optimal. Sedangkan
dalam merancang pembelajaran para perancang perlu menentukan sumber belajar apa
dan bagaimana cara memanfaatkannya.
5) Hasil
belajar
Hasil belajar berkaitan dengan pencapain
dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan. Dengan
demikian, tugas utama pendidik dalam kegiatan ini adalah merancang instrumen
yang dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan peserta didik dalam mencapai
tujuan pembelajaran. Berdasarkan data tersebut pendidik dapat mengembangkan dan
memperbaiki program pembelajaran. Sedangkan, tugas seorang perancang dalam
menentukan hasil belajar selain
menetukan instrumen juga perlu merancang cara menggunakan instrumen beserta
kriteria beserta keberhasilannya. Hal ini perlu dilakukan sebab dengan kritera
yang jelas dapat menentukan apa yang harus dilakukan peserta didik dalam
mempelajari isi, materi atau bahan pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar