Kamis, 01 Maret 2018

Pendekatan sistem dalam pembelajaran (system approach in learning)

A.  Konsep Dasar Sistem Pembelajaran
1.    Pengertian Sistem
Pada akhir tahun 1950 dan awal 1960-an pendekatan sistem mulai diterapkan dalam bidang pendidikan dan pelatihan. Pendekatan sistem yang diterapkan dalam pembelajaran bukan saja sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuaan dan teknologi, tetapi juga sesuai dengan perkembangan dalam psikologi belajar sistematik yang dilandasi oleh prinsip-prinsip psikologi behaavioristik dan humanistik serta kenyataan dalam masyarakat sendiri. Menurut Sanjaya (2013) menyatakan bahwa sistem bukanlah “cara” atau “metode” seperti yang banyak dikatakan orang. Cara hanyalah bagian kecil dari suatu sistem. Istilah sistem meliputi spektrum yang sangat luas. Misalnya manusia, binatang, alam semesta, mobil, motor, lembaga tertentu adalah sebagai suatu sistem. Mengapa semuanya itu dikatakan sebagai suatu sistem? Karena contoh-contoh diatas memiliki komponen tertentu yang berfungsi untuk mencapai tujuan tertentu pula. Misalnya manusia sebagai suatu sistem karena manusia memiliki komponen tertentu yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Dalam tubuh manusia terdapat organ tubuh seperti mata, hidung, mulut, jantung, hati, paru-paru, otak, tangan, kaki dan lainnya. Setiap komponen memiliki fungsi tertentu. Seperti mata berfungsi untuk melihat, hidung berfungsi untuk mencium bau, jantung memompa darah dan lain sebagainya. Setiap komponen dalam tubuh manusia berkaitan satu sama lain. Ketika satu bagian tubuh merasa sakit maka bukan hanya bagian itu saja yang merasakannya tetapi semua tubuh pun ikut merasakan sakit yang sama.
Jadi sistem merupakan suatu komponen yang memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain untuk mencapai suatu tujuan.
Dari konsep tersebut sanjaya (2013)menyatakan bahwa ada 3 ciri utama yakni
1)      Setiap sistem memiliki tujuan tertentu
Setiap sistem pasti memiliki tujuan. Sebagai contoh manusia sebagai sistem yakni agar dapat melaksanakan tugas kehidupannya. Tujuan kendaraan sebagai sistem yakni mengantarkan penumpangnya dengan lebih cepat, aman dan nyaman. Tujuan lembaga pendidikan sebagai sistem yakni agar dapat melayani setiap peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa sistem pasti memiliki tujuan. Tujuan itulah yang menjadi penggerak sistem.
2)      Setiap sistem memiliki fungsi tertentu
Untuk mencapai suatu tujuan, setiap sistem harus memiliki fungsi tertentu. Misalnya, agar manusia dapat melaksanakan tugas kehidupannya, manusia memerlukan fungsi pernafasan, pencernaan, peredaran darah dan lain sebagainya.  Agar suatu kendaraan dapat mengantarkan penumpangnya dengan lebih cepat, aman, dan nyaman mesti memiliki fungsi pengaturan penggerak, fungsi pengaturan arah, fungsi kenyamanan dan fungsi pengamanan dan lain sebagainya. Agar proses pendidikan berjalan dan dapat mencapai tujuan secara optimal maka diperluka fungsi perencanaan, fungsi administrasi, fungsi kurikulum, fungsi bimbingan, dan lain sebgainya. Jadi dapat disimpulkan bahwa setiap fungsi inilah yang akan terus berproses hingga tercapainya suatu tujuan.
3)      Setiap sistem memiliki komponen
Untuk dapat melaksanakan fungsi-fungsinya, setiap sistem harus memiliki komponen yang saling terkait antara satu sama lain. Komponen-komponen inilah yang menentukan kelancaran proses suatu sistem. Misalnya agar fungsi pencernaan berjalan dengan sistem tubuh manusia maka diperlukan komponen mulut, gigi, lidah, kerongkongan, lambung, usus dan lain sebaginya. Agar fungsi pengaturan arah berjalan dalam sistem kendaraan maka diperlukan komponen stir, dan lain sebagainya. Begitu juga agar fungsi perencanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik maka diperlukan komponen silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Agar fungsi adminstrasi pembelajaran dapat menunjang keberhasilan sistem pendidikan maka diperlukan komponen administrasi kelas, administrasi peserta didik, administrasi pendidik dan lain sebagainya. Agar kurikulum berfungsi sebagai alat pendidikan diperlukan komponen tujuan, isi/materi pelajaran, strategi pembelajaran serta komponen eveluasi pembelajaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagai suatu sistem komponen harus dapat melaksanakan fungsinya dengan tepat dan apabila terdapat 1 komponen tidak berfungsi maka akan mempengaruhi sistem tersebut. Keberadaan komponen beserta fungsinya memiliki kedudukan yang sangat penting sehingga tidak mungkin ada sistem tanpa adanya komponen. Selain itu, Sanjaya (2013) menjelaskan bahwa terdapat pula sifat-sifat komponen dalam suatu sistem yakni
1)      Dilihat dari fungsinya terdiri dari komponen yang bersifat integral dan tidak integral.
Komponen integral merupakan koponen yang tidak dapat dipisahkan atara 1 dengan yang lain sebgai contoh pendidik dan peserta didik dalam lembaga pendidikan. komponen tidak integral merupakan komponen pelengkap artinya walaupun komponen itu tidak ada maka tidaka akan memiliki pengaruh yang signifikan dalam sistem itu. Misalnya walaupun sekolah itu tidak mimiliki perpustakaan dalam suatu lembaga pendidikan maka sekolah tersebut tetap melakukan proses belajar mengajar.
2)      Setiap komponen dalam suatu sistem saling berhubungan dan saling berkaitan.
Semua komponen yang membentuk sistem harus berfungsi dengan baik sebab manakala salah satu komponen terlepas maka sistem tidak akan menjalankan fungsinya dengan baik dan memungkin akan merusak sistem secara keseluruhan. Misalnya komponen pendidik tidak dapat menjalakan fungsinya dengan baik dalam lembaga pendidikan maka akan merusak sistem lembaga pendidikan yang bersangkutan
3)      Setiap komponen dalam suatu sistem merupakan keseluruhan yang bermakna.
Dalam suatu sistem, komponen, komponen itu bukan hanya bagian-bagian yang terpisah akan tetapi satu kesatuan yang bermakna. Misalnya dalam pelaksanaan pembelajaran komponen yang diperlukan seorang pendidik yakni materi pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), pemilihan model, metode, strategi, pendekatan dan media pembelajaran yang tepat. Jika pendidik tidak menggunakan media yang tepat dalam penyampaian materi maka komponen dari  sistem pengajaran akan rusak sehingga pembelajaran yang didapatkan oleh peserta  didik menjadi tidak bermakna karena kesalahan pemilihan media. Hal ini akan lebih parah ketika pendidik salah konsep dalam menyampaikan materi sehingga peserta didik akan memperoleh miskonsepsi atau kesalahan dalam konsep. Untuk itu komponen dalam suatu sistem sangat penting dan saling berkaitan apabila terjadi satu kesalahan pada komponen, tidak menutup kemungkinan akan terjadi kerusakan secara keseluruhan terhadap sistem tersebut.
4)      Setiap komponen dalam suatu sistem adalah bagian dari sistem yang lebih besar.
Komponen-komponen dalam suatu sistem pada dasarnya adalah subsistem dari suatu sistem. Ini berarti komponen-komponen itu pada dasarnya membentuk sistem tersendiri yang lebih kecil. Misalnya sekolah adalah sebagai suatu sistem yang merupakan subsistem dari sistem pendidikan.
2.    Sistem Pembelajaran
Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan berdasarkan pendapat Hamalik (2012). Unsur manusiawi dalam sistem pembelajaran terdiri atas siswa, guru/pengajar, serta orang orang yang mendukung terhadap keberhasilan proses pembelajaran termasuk pustakawan. Laboran, tenaga administrasi bahkan mungkin penjaga kantin sekolah. Material adalah berbagai bahan pembelajaran yang dapat disajikan sebagai sumber belajar, misalnya buku buku, film, slide suara, foto, CD, dan sebagainya. Fasilitas dan perlengkapan adalah segala sesuatu yang dapat mendukung terhadap jalannya proses pembelajaran, misalnya ruang kelas, penerangan, perlengkapan komputer, audio visual, dan lain sebagainya. Prosedur adalah kegiatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran misalnya, strategi dan metode pembelajaran, jadwal pembelajaran, pelaksanaan evaluasi, dan lain sebagainya.
Sebagai suatu sistem seluruh unsur yang membentuk sistem itu memiliki ciri saling ketergantungan yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Keberhasilan sistem pembelajaran adalah keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Selanjutnya, siapa yang diharapkan dapat mencapai tujuan tersebut ? yang harus mencapai tujuan adalah siswa sebagai subjek belajar. Maka dengan demikian, tujuan utama sistem pembelajaran adalah keberhasilan siswa mencapai tujuan. Dari uraian tersebut, Sanjaya (2013) menjelaskan bahwa tugas seorang perancang pembelajaran meliputi 3 hal pokok yaitu ;
1)      Sebagai perencana, yakni mengorganisasikan semua unsur yang ada agar berfungsi denga baik, sebab manakala salah satu unsur tidak bekerja dengan baik maka akan merusak sistem itu sendiri.
2)      Sebagai pengelola implementasi sesuai dengan prosedur dan jadwal yang direncanakan
3)      Mengevaluasi keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan untuk menentukan efektivitas dan efesiensi sistem pembelajaran.
Hamalik (2003) berpendapat bahwa terdapat pola pendekatan sistem pembelajaran yang harus ditempuh yakni :
1)      Identifikasi kebutuhan pendidikan dan pelatihan (merumuskan masalah)
2)      Analisis kebutuhan untuk menstranformasikannya menjadi tujuan-tujuan pembelajaran (analisis masalah)
3)      Merancang metode dan materi pembelajaran (analisis masalah)
4)      Pelaksananaan pembelajaran (ekspresimental)
5)      Menilai dan merevisi.

B.  Manfaat Pendekatan sistem dalam pembelajaran
Sanjaya (2013) menjelaskan bahwa dalam merencanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem memiliki beberapa manfaat diantaranya :
1)      Melalui pendekatan sistem, arah dan tujuan pembelajaran dapat dirancanakan dengan jelas. Mengajar adalah proses yang bertujuan. Mau dibawa kemana siswa ? apa yang harus mereka lakukan dalam proses pembelajaran ? semuanya tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Melalui tujuan itulah kita dapat menetapkan arah dan sasaran dengan pasti. Perumusan tujuan merupakan salah satu karakteristik pendekatan sistem. Penentuan komponen-komponen pembelajaran pada dasarnya diarahkan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, segala usaha baik pendidik maupun peserta didik diarahkan untuk mencapai tujuan dan arah pembelajaran, sehingga melalui tujuan yang jelas, bukan saja dapat menentukan langkah-langkah pembelajaran dan pengembangan komponen yang lainnya, akan tetapi juga dapat dijadikan kriteria efektivitas proses pembelajaran. Dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi, manakala dalam suatu proses pembelajaran tanpa adanya tujuan yang jelas. Tentu, proses pembelajaran tidak akan menjadi fokus, dalam arti pembelajaran akan menjadi tidak bermakna serta sulit menentukan efektivitas proses pembelajaran.
2)       Pendekatan sistem menuntun pendidik pada kegiatan yang sistematis. Berpikir secara sistem adalah berpikir runtut, sehingga melalui langkah-langkah yang jelas dan pasti memungkinkan hasil yang diperoleh akan maksimal. Sebab melalui langkah yang sistematis kita dituntun untuk melakukan proses pembelajaran setahap demi setahap dari seluruh rangkaian kegiatan, sehingga kemungkinan kegagalan dapat dihindari. Dengan demikian, pendekatan sistem juga dapat menghindari kegiatan-kegiatan yang tidak perlu dilakukan.
3)      Pendekatan sistem dapat merancang pembelajaran dengan mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang tersedia. Sistem dirancang agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Dengan demikian, berpikir sistemis adalah berpikir bagaimana agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik. Dengan ketercapaian tujuan pembelajaran dalam kerangka sistem itulah setiap pendidik berusaha memanfaatkan seluruh potensi yang relevan dan tersedia.
4)      Pendekatan sistem dapat memberikan umpan balik. Melalui proses umpan balik dalam pendekatan sistem, dapat diketahui apakah tujuan itu telah berhasil dicapai atau belum. Hal ini sangat penting sebab mencapai tujuan merupakan hal yang utama dalam berpikir sistemik. Misalnya manakala berdasarkan umpan balik diketahui tujuan tidak berhasil dicapai, komponen mana yang perlu diperbaiki, dan komponen mana yang perlu dipertahankan? Apakah setiap komponen harus dilakukan penyesuaian atau hanya komponen tertentu saja ? bagaimana kadar perbaikan setiap komponen tersebut ? semua itu dapat diperoleh dari kajian umpan balik.

C.  Komponen sistem pembelajaran
Perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, serta suatu rangkaian kegiatan yang perlu dilakukan sebagai upaya pencapaian tujuan dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada. Perencanaan pembelajaran mengarah pada proses penerjemahan kurikulum yang berlaku. Sedangkan, desain pembelajaran menekankan pada merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar peserta didik. Hal inilah yang membedakan keduanya. Perencanaan berorientasi pada kurikulum sedangkan desain berorientasi pada proses pembelajaran. Namun demikian, baik pengembangan perencanaan maupun pengembangan desain pembelajaran keduanya disusun berdasarkan pendekatan sistem. Kalau kita anggap perencanaan pembelajaran sebagai suatu sistem, maka di dalamnya harus memiliki komponen komponen yang berproses sesuai dengan fungsinya hingga tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. Komponen sistem pembelajaran yang digambarkan oleh Brown (1983) terdapat beberapa komponen sistem pembelajaran yakni
1)      Peserta didik
Proses pembelajaran pada hakikatnya diarahkan untuk membelajarkan peserta didik agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian, maka proses pengembangan perencanaan dan desain pembelajaran, peserta didik harus dijadikan pusat dari segala kegiatan. Artinya, keputusan-keputusan yang diambil dalam perencanaan dan desain pembelajaran disesuaikan dengan kondisi peserta didik yang bersangkutan, baik sesuai dengan kemampuan dasar, minat dan bakat, motivasi, belajar, dan gaya belajar peserta didik itu sendiri.
Anlisis peserta didik merupakan suatu hal yang penting sebelum merencanakan suatu proses perencanaan pembelajaran. Misalnya, kita membutuhkan informasi tentang apa saja yang harus diketahui oleh mereka sesuai dengan tuntunan kurikulum ? apa saja yang sudah mereka ketahui dan mana saja yang belum dipahami ? masalah apa saja yang mereka hadapi dalam proses belajar ? adakah sesuatu yang mereka harapkan dalam proses pembelajaran dan lain sebagainya. Apabila kita telah memahami persoalan-persoalan yang berhubungan dengan peserta didik, maka selanjutnya kita dapat mulai melakukan proses perencanaan dan menyusun desain. Jadi dengan demikian, keputusan apapun yang harus kita ambil sebaiknya berasal dari kondisi peserta didik yang akan kita belajarkan.
2)      Tujuan
Tujuan adalah komponen terpenting dalam pembelajaran setelah komponen peserta didik sebagai subjek belajar. Dalam konteks pendidikan, persoalan tujuan merupakan persoalan tentang misi dan visi suatu lembaga pendidikan itu sediri. Artinya tujuan penyelenggaraan pendidikan diturunkan dari visi dan misi lembaga pendidikan itu sendiri, misalnya :
a.       Melatih peserta didik agar memiliki kemapuan tinggi dalam bidang permesinan
b.      Mengajarkan keterampilan dasar bagi peserta didik
c.       Memberikan jaminan agar lulusan menjadi tenaga kerja yang efektif dalam bidang tertentu, memiliki kreatifitas yang tinggi dan lain sebagainya.
Tujuan-tujuan tersebut sebenarnya merupakan arah yang harus dijadikan rujuakan dalam proses pembelajaran. Artinya tujuan-tujuan khusus, yang dirumuskan harus berorientasi pada pencapaian tujuan umum tersebut. Tujuan-tujuan khusus yang direncanakan oleh pendidik meliputi
a.       Pengetahuan, informasi, serta pemahaman sebagai bidang kognitif
b.      Sikap dan apresiasi sebagai tujuan bidang afektif
c.       Berbagai kemampuan sebagai bidang psikomorik
Dalam konteks pembelajaran, tujuan khusus dirumuskan sebagai teknik untuk mencapai tujuan pendidikan.
3)      Kondisi
Kondisi adalah berbagai pengalaman belajar yang dirancang agar peserta didik dapat mencapai tujuan khusus seperti yang telah dirumuskan. Pengalaman belajar harus mendorong agar peserta didik aktif belajar baik secara fisik maupun nonfisik. Merencanakan pembelajaran salah satunya adalah menyediakan kesempatan pada peserta didik untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya sendiri. Demikian juga dalam merancang pembelajaran perancang perlu menciptakan kondisi agar peserta didik dapat belajar dengan penuh motivasi dan penuh gairah, oleh sebab itu, tugas pendidik adalah memfasilitasi pada peserta didik agar mereka belajar sesuai dengan minat, motivasi, dan gayanya sendiri. Semua itu bisa dirancang melalui pendekatan belajar secara klasikal dalam kelompok kelas besar, kelompok kelas kecil dan bahkan belajar secara mandiri. Namun demikian, walaupun para perancang menggunakan berbagai pendekatan pada akhirnya sasaran akhir adalah bagaimana agar setiap individu dapat belajar. Oleh karewna itu tekanan dalam menentukan kondisi belajar adalah siswa secara individual.
4)      Sumber-sumner belajar
Sumber belajar berkaitan dengan segala sesuatu yang memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengalam belajar. Didalamya meliputi lingkunagn fisik seperti tempet belajar, bahan dan alat yang dapat digunakan, personal seperti pendidik, petugas perpustakaan, ahli media, dan orang yang memiliki pengaruh baik langsung maupun tidak langsung untuk keberhasilan dalam pengalaman belajar. Dalam proses merencanakan pembelajaran, perencanaan harus dapat menggambarkan apa yang harus dilakukan pendidik dan peserta didik dalam memanfaatkan sumber belajar secara optimal. Sedangkan dalam merancang pembelajaran para perancang perlu menentukan sumber belajar apa dan bagaimana cara memanfaatkannya.
5)      Hasil belajar
Hasil belajar berkaitan dengan pencapain dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan. Dengan demikian, tugas utama pendidik dalam kegiatan ini adalah merancang instrumen yang dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan data tersebut pendidik dapat mengembangkan dan memperbaiki program pembelajaran. Sedangkan, tugas seorang perancang dalam menentukan hasil belajar  selain menetukan instrumen juga perlu merancang cara menggunakan instrumen beserta kriteria beserta keberhasilannya. Hal ini perlu dilakukan sebab dengan kritera yang jelas dapat menentukan apa yang harus dilakukan peserta didik dalam mempelajari isi, materi atau bahan pembelajaran.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengulas Sejarah Desa Ruhui Rahayu

Mengulas Sejarah Desa Ruhui Rahayu       Desa Ruhui Rahayu berada di Wilayah Kecamatan Tanjung Palas Kabupaten Bulungan terbentuk mulai...